Permainan Tradisional, Warisan Sejarah yang Hampir Punah
Agung Gunawan Sutrisna*
Indonesia kaya akan budaya
Kebudayaan Indonesia banyak meliputi
berbagai macam hal, meliputi kesenian, permainan tradisional, bahasa, pakaian
adat (suku), dll. Dengan demikian, Indonesia mempunyai jati diri yang beragam
tak hanya terpaku pada satu wilayah saja. Menurut Pasal 32 UUD 1945, yang
berbunyi: “kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak-puncak kebudayaan di
daerah,” menjadi tolak ukur sejauh mana Indonesia mempunyai keberagaman
budaya. Hal inilah yang menjadi kebanggaan Indonesia sebagai negara berkembang
yaitu mempunyai keberagaman kebudayaan. Kebudayaan-kebudayaan inilah yang
seyogianya harus dilestarikan dan dipertahankan oleh masyarakat karena tanpa
kita sadari bahwa bila melestarikan kebudayaan Indonesia, berarti kita tidak melupakan
sejarah.
http://www.sorgemagz.com/wp-content/uploads/2013/06/cinta.jpg
Permainan Egrang
Permainan yang satu ini berbeda dengan permainan bebentengan yang konsep
permainannya membutuhkan lahan kosong yang cukup luas, pemain yang cukup banyak
dan mengandalkan kerjasama tim. Egrang yang permainannya cukup sulit dilakukan
oleh orang awam atau bagi orang yang masih pemula untuk memainkannya. Permainan
ini membutuhkan keseimbangan raga kita dalam memainkannya. Kenapa bisa begitu,
karena si pemain harus berusaha menyeimbangkan berat dan tinggi tubuhnya dalam
pijakan dua buah batang bambu yang menopang kedua kakinya untuk berjalan.
Pemain
Permainan egrang dapat dikategorikan sebagai permainan anak-anak. Pada umumnya
permainan ini dilakukan dilakukan oleh anak laki-laki yang berusia 7-13 tahun.
Tempat dan Peralatan Permainan
Permainan egrang ini tidak membutuhkan tempat (lapangan) yang khusus. Egrang
dapat dimainkan di mana saja, asalkan di atas tanah. Jadi, dapat di tepi
pantai, di tanah lapang atau di jalan. Peralatan yang digunakan adalah dua
batang bambu bata (volo vatu) yang relatif lurus dan sudah tua dengan
panjang masing-masing antara 1,5-3 meter. Cara membuatnya adalah sebagai
berikut : Mula-mula bambu dipotong menjadi dua bagian yang panjangnya
masing-masing sekitar 2½-3 meter. Setelah itu, dipotong lagi bambu yang lain
menjadi dua bagian dengan ukuran masing-masing sekitar 20-30 cm untuk dijadikan
pijakan kaki. Selanjutnya, salah satu ruas bambu yang berukuran panjang
dilubangi untuk memasukkan bambu yang berukuran pendek. Setelah bambu untuk
pijakan kaki terpasang, maka bambu tersebut siap untuk digunakan.
Aturan Permainan
Aturan permainan egrang dapat dibagi menjadi dua, yaitu perlombaan lari dan
pertandingan untuk saling menjatuhkan dengan cara saling memukulkan kaki-kaki
bambu. Perlombaan adu kecepatan biasanya dilakukan oleh anak-anak yang berusia
antara 7-11 tahun dengan jumlah 2-5 orang. Sedangkan, permainan untuk saling
menjatuhkan lawan biasanya dilakukan oleh anak-anak yang berusia antara 11-13
tahun dengan menggunakan sistem kompetisi.
Jalannya Permainan
Apabila permainan hanya berupa adu kecepatan (lomba lari), maka diawali dengan
berdirinya 3-4 pemain di garis start sambil menaiki bambu masing-masing.
Bagi anak-anak yang kurang tinggi atau baru belajar bermain egrang, mereka
dapat menaikinya dari tempat yang agak tinggi atau menggunakan tangga dan baru
berjalan ke arah garis start. Apabila telah siap, orang lain yang tidak
ikut bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan. Mendengar
aba-aba itu, para pemain akan berlari menuju garis finish. Pemain yang
lebih dahulu mencapai garis finish dinyatakan sebagai pemenangnya.
Sedangkan, apabila permainan bertujuan untuk mengadu bambu masing-masing
pemain, maka diawali dengan pemilihan dua orang pemain yang dilakukan secara
musyawarah/mufakat.
Setelah itu, mereka akan berdiri berhadapan. Apabila telah siap, peserta lain
yang belum mendapat giliran bermain akan memberikan aba-aba untuk segera
memulai permainan. Mendengar aba-aba itu, kedua pemain akan mulai mengadukan
bambu-bambu yang mereka naiki. Pemain yang dapat menjatuhkan lawan dari bambu
yang dinaikinya dinyatakan sebagai pemenangnya. Permainan ini cukup populer,
apalagi ketika banyak diadakan pelbagai pagelaran perlombaan 17 Agustus-an
tiap tahun di berbagai daerah di Indonesia.
Nilai Budaya
Nilai budaya yang terkandung dalam permainan egrang adalah kerja keras,
keuletan, dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para
pemain yang berusaha agar dapat mengalahkan lawannya. Nilai keuletan tercermin
dari proses pembuatan alat yang digunakan untuk berjalan yang memerlukan
keuletan dan ketekunan agar seimbang dan mudah digunakan untuk berjalan. Dan,
nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak
berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan
dengan lapang dada.
*Penulis, Ketua
Umum LPM Unpas Bandung yang hampir beres J
Sekjen Forum Komunikasi Pers Mahasiswa
Bandung 2013-2014
wow..istimewa..ditunggu share selanjutnya kak
BalasHapushehehe trimakasih, ok tunggu sja y :-)
Hapus